Suluk Thariqah Asy-Syadzily

Suluk Thariqah Asy-Syadzily

Kamis, 18 November 2010

Syaikh Maulana Hasan Asy-Syadzily Al Jawi

Mudzakarah Syaikh Maulana Hasan Asy-Syadzily Rejenu Al Jawi



Barang kali, tanpa di sadari sebelumnya
bathiniyah kita haus akan nilai-nilai luhur para leluhur
dalam istirahat panjangnya di alam baka
yang istiqomah memanggil kesadaran serta nama kita
untuk sekedar berziarah atau mengenang sejarahnya
yang semakin terabaikan bersama perubahan zaman..

Sementara kita,
trah darah keturunan semestinya jadi penerus harapannya
justru larut dalam kesibukan penuhi hasrat duniawi
hingga melupakan ruh cahaya doa keselamatan agung
yang tersembunyi di dalam aliran darah dan tabir ragawi kita
menyebut-nyebut nama-nama yang kian terlupakan zaman
sementara Islam telah jadi pakaian adab dan akhlak kita..


Mengenang pengembaraan bersama Kyai Mas Muhammad Hartoyo, Mursyid Mulia Halaqah 11 Mudzakarah Kanjeng Sunan Giri Prapen Al Jawi  pada  tahun 1999 silam di Maqam Kanjeng Syaikh Maulana  Hasan Asy-Syadzily di Pertapan Alas Rejenu, lembah Gunung Muria, Kudus. Sungguh pengalaman hidup serta pengalaman bathin yang takkan terlupakan.

Al Mursyid Halaqah-11 Suluk Kanjeng Sunan Giri Prapen
Kanjeng Kyai Muhammad Hartaya Ainul Yaqin Temanggung


Di dalamnya, ketika menempuh langkah suluk itu ada satu idiom unik yang waktu itu popular diperbincangkan, ialah “Ilmu Alif”? Seringkali saya mendengar beberapa Mursyid Suluk, Mursyid Thariqah dan Shohibul Halaqah mudzakarah Wali Songo Al Jawi, bahkan para Musafir Suluk yang pernah saya jumpai di beberapa halte pemberhentian kembara tampak asyik berdiskusi perihal ilmu Alif itu. Mulai dari tanya jawab ihwal apakah Al Maknawiyah wal Harafiyah fii Huruf Alif?, rahasia Kalam Alif?, Aurad Alif?, Sirr Alif?, Anasir Alif?, ataupun Asrar Hikmah Alif? Dan sebagainya.

Namun sungguh beribu malang, sayangnya dasar kelono sing bodho, walaupun sudah dijelaskan panjang lebar, rasanya kog saya tetap saja tambah bingung sendiri, jeh.. hehehe? Namun, dengan modal kebodohan dan rasa ingin tahu saya itulah kiranya jadi semangat untuk sekedar mencicipi rasa sebatang sigaret rokok kawung Kudus, bagaimana sih sebenarnya dunia Alif itu? Atau, Suluk Alif itu? Maka, ketika saya bertanya kepada Mursyid saya, Kanjeng Kyai Mas Muhammad Hartaya, atau untuk selanjutnya saya memanggil beliau dengan gelar beliau, yakni Kanjeng Panembahan Mas Giri Prapen-XI.

"Saderengipun kula nyuwun pangapunten, Kanjeng Paman?”
”Iyaa.. ana wigati apa thaa kog tumben njanur gunung, Gus..?”
“Injih punika Kanjeng Paman, menawi kapareng kula badhe taken lan nyuwun dipun paringi wewarah punapa tha ingkang kamaksudaken Ilmu Alif punika?”

Beliau, hanya tersenyum dan mengeluarkan sebuah kitab dari dalam tas Beliau. Dan kemudian Beliau menyodorkan kitab itu kepada saya, serta meminta saya terlebih dahulu membaca, kalau bisa mengkhatam Kitab Al Ihya ’Ulumuddin karya Asy-Syaikh Al Imam Ghazali Radhiyallahu ’Anhu.

Kanjeng Panembahan Mas Giri Prapen berkata, ”Pokoke, kitab iki Sira gawa sikik. Sira waca kanthi temen lan di sinau wae isine sikik kanthi temenan, mengko menawa wis rampung maca, Sira Gus.. Insya Allah, mengko pas tanggal 9 wulan 9 Sira melu Ingsun njajal sinau adab suluk, sinau adab mudzakarah, ziarah marang pratapane para Wali Songo lan leluhur, uga sinau nguripake syahadat jati, yaiku kenal marang jati diri sira pribadi. Insya Allah, mengko menawa wus tekan wektune Sira melu Ingsun silaturahim menyang Bumi Wali Songo. Muga-muga Gusti Allah Azza wa Jalla paring Ridhlane, lan Kanjeng Rasulullah paring Syafa’ate, lan para Wali paring ma’unahe, uga para Walid paring ridhla lan pangestune. Insya Allah..”

”Injih Kanjeng Paman, kula nyuwun dipun bimbing Panjenengan..”

”Iyaa..Insya Allah, padha-padha, Gus. Ingsun lamun saderma netebi wajib ngibadah marang Gusti Allah Azza wa Jalla. Amarga tugas kitha salaku ummat Muslim iku ingkang wigati mesti dadhi Mukmin keng Sejati, netebi wajib marang syari’ate Kanjeng Nabi Muhammad Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam”.

“Injiih.. Kanjeng Paman, kula suka rila ngestokaken dhawuh..”

”Iyaa.. padha-padha.. Alhamdulillahi Rabbul Mustajabah..”

Dengan jutaan rasa bingung dan gedandhapan, saya terima pinjaman Kitab Al Ihya ’Ulumuddin dari beliau dan menunaikan amanah beliau. Saya membathin, apakah seorang ahli maksiat seperti diri saya ini layak menerima amanah ini?

Beliau, Kanjeng Panembahan Mas Giri Prapen kemudian mengajak saya untuk pergi belajar suluk dan mudzakarah ke Bumi Wali Songo, yakni Kota Demak. Masya Allah, dalam hati saya gelisah tak menentu karena memang tidak tahu harus bagaimana? Akhirnya setelah bersekapat waktu dan tempat pertemuan, maka kami berangkat dengan naik mobil angkot ke Terminal Pulo Gadung, dimana sedari awal kami berdua dalam kondisi berpuasa dan berdzikir di setiap hembus nafas, serta di setiap melangkahkan kaki menapak wajah Bumi Allah. Alhamdulillah, sesampai tiba di Terminal Pulo Gadung, tiba-tiba seperti sudah dipersiapkan kami langsung dapat Bus Malam yang menuju ke Kota Demak. Subhanallah.. Demikian suluk di mulai.

Bersama Mursyid Mulia Halaqah-XI Mudzakarah Wali Songo, yakni Kanjeng Kyai Mas Mohammad Hartaya, beliau merupakan trah darah sekaligus penerus perjuangan Kanjeng Sunan Giri Prapen yang ke sebelas. Seorang Mursyid yang sangat bersahaja, serta luas wawasan pemahamannya mengenai ilmu Fiqih, ilmu Tasawuf, serta sejarah Islam.

Beberapa foto yang terlampir pada catatan ini merupakan foto lokasi-lokasi yang pernah kami datangi pada tahun 1999, dan kondisi yang tampak dalam foto-foto terlampir jauh sangat berbeda dengan pertama-kasi sampai di Alas Rejenu itu. Namun, setidaknya dapat menjadi gambaran bagaimana kondisi alam sekitar Alas Rejenu saat ini. Meskipun hampir 11 tahun silam, saya berkesempatan mengawal Mursyid Mulia Kanjeng Kyai Mas Mohammad Hartaya bersuluk dan bermudzakarah bathin ke Alas Rejenu. Sungguh, terasa damai dalam hidup dan sejuk dalam bathin.


Kawasan Wisata Alam Rejenu dengan ketinggian kurang lebih 1.150 M DPL, terletak dipegunungan Argo Jembangan Gunung Muria, berjarak kurang lebih 3 Km dari Pesanggrahan Colo. Masih banyak yang belum mengetahui kompleks ziarah ini, keadaan alamnya masih alami. Untuk mencapai lokasi, dari Desa Rejenu cukup jauh kurang lebih sekitar 3 km. Bisa ditempuh dengan jalan kaki atau kendaraan bermotor roda dua. Banyak dimanfaatkan oleh para Alim Ulama atau santri Pondok Pesantren setempat setempat untuk beruzlah, menyepi dan memperoleh ketenangan bathin.


Rejenu berlokasi di Pegunungan Argo Jambangan sekitar 3 km dari Pesanggrahan Gunung Muria. Menurut cerita rakyat dari desa Rejenu, Syech Hasan Sadzali adalah seorang Ulama, Guru Besar Spiritual dari Wali Songo. Beliau berasal dari Negeri Seberang, Timur Tengah. Berkelana untuk sampai ke Tanah Jawa untuk syiar agama Islam.

Sebuah makam di sebelah utara makam Sunan Muria, di atas objek air terjun Montel. Tepatnya di Japan Utara yang dikenal dengan Rejenu yang berdasarkan astronomi berada di koordinat 6° 39′ 6″ LS 110° 54′ 10″ BT. Di sini terdapat sebuah makam yang banyak diziarahi orang. Orang mengenalnya sebagai makam Syeh Sadzali. Salah satu murid Sunan Muria yang disegani.



Untuk mencapai makam ini memang tidak segampang bila ingin ziarah ke makam Sunan Muria. Kawasan ini boleh dikatakan belum tersentuh ”tangan” pembangunan yang menyediakan fasilitas kemudahan. Masih alami. Listrikpun belum tersedia. Walau sekarang jalan menuju tempat tersebut telah diperlebar dan dilapisi beton sehingga banyak tersedia jasa ojek (melalui rute desa Japan). Sedangkan bila melalui Air terjun Montel masih harus melewati jalan setapak.


Yang datang berziarah tidak hanya dari Kudus. Banyak yang berasal dari kota-kota besar di Jawa, seperti Jakarta, Tangerang, Bandung, Semarang, dan Surabaya. Sebagian lagi dari Palembang dan Kalimantan. Bahkan, dari Singapura dan Irlandia. Selain itu, ternyata masih ada beberapa objek lain yang berdekatan dengan makam Syeh Sadzli dan Air Tiga Rasa ini. Objek-objek itu antara lain : [1] Air terjun Langgar Bubrah. Cukup tinggi, tak kalah dengan air terjun Montel di Colo. Namun, jalan ke arah sana baru jalan setapak atau lewat aliran Sungai Rejenu. [2] Gua Jepang. [3] Makam Syeh Subakir dan Ali Murtadho. Di sebelah atas melalui jalan setapak yang terjal. [4] Sendang Anglingdarmo. Selain itu, Rejenu (Makam Syeh Sadzli dan Air Tiga Rasa) merupakan pos pendakian terakhir bagi yang ingin mendaki ke Puncak Argowiloso maupun Argojembangan. Dua diantara beberapa puncak tertinggi Gunung Muria.

Dulu kami berjalan kaki dari Masjid Agung Demak Bintoro menuju Makam Kanjeng Sunan Kudus, kemudian melanjutkan perjalanan kaki hingga ke Alas Rejenu untuk berziarah ke Makam Kanjeng Syaikh Maulana Hasan asy-Syadzily dan beberapa tempat petilasan Wali Songo lainnya di sekitar Gunung Muria. Dan berlanjut ke atas Gunung Muria untuk berziarah ke Makam Kanjeng Sunan Muria melalui jalur Puncak Sanga Likur, sehingga kami sempat berziarah sebelumnya ke Makam Pangeran Kembar, serta beberapa Makam kerabat Kanjeng Sunan Muria lainnya.
  

Terakhir menutup perjalanan, kami teruskan turun Gunung Muria menuju ke Kadilangu Demak untuk berziarah ke Makam Kanjeng Sunan Kali Jogo. Sekaligus memenuhi undangan menghadiri acara Haul Kanjeng Sunan Kali Jogo di Masjid Kadilangu Demak. Setelah acara Haul selesai, saya kembali mengawal Mursyid Mulia Kanjeng Kyai Mas Mohammad Hartaya menuju kota Temanggung, tepatnya ke Pondok Pesantren keluarga beliau yang mejadi warisan dari leluhur mulia beberapa alim ulama setempat, yakni Kanjeng Panembahan Giri Prapen-II putra dari Kanjeng Sunan Giri Prapen-I putra dari Kanjeng Sunan Giri, Syaikh Maulana Ainul Yaqin.


Tuk Tiga Rasa, atau sumber mata air tiga rasa, konon kisahnya dahulu bermula dari kedatangan Syaikh Sadzali atau Mbah Kasan Sadali sebutan masyarakat Muria untuk Syaikh Maulana Hasan Asy-Syadzily ke Pesantren Kanjeng Sunan Muria pada masa Wali Songo. Beliau adalah seorang musafir dari Baghdad Iraq yang ingin memuntut ilmu di tanah Jawa, hingga bermukim sampai akhir hayatnya di tengah Alas Rejenu yang terletak di utara lereng Gunung Muria.

Ketika Syaikh Maulana Hasan Asy-Syadzily menghadap Kanjeng Sunan Muria, yakni Raden Umar Said untuk berguru. Dan selanjutnya, Kanjeng Sunan Muria meminta Syaikh Maulana Hasan Asy-Asyadzily untuk pergi ke sebelah utara, tepatnya di daerah Rejenu. Belakangan diketahui oleh masyarakat Japan di lembah Gunung Muria, bahwa Syaikh Maulana Hasan Asy-Syadzily ternyata mempunyai banyak pemahaman tentang ilmu hikmah serta rahasia karomah. Sehingga, dari waktu ke waktu ada beberapa orang yang ingin berguru kepada beliau, lama-lama orang yang datang untuk mejadi santrinya pun semakin banyak. Melihat perkembangan itu, maka Syaikh Maulana Hasan Asy-Syadzily bersama para santri dengan bantuan para penduduk sekitar Alas Rejenu kemudian membangun sebuah Langgar, atau mushola yang dibawahnya terdapat sebuah mata air yang digunakan para santri beliau untuk berwudhlu dan memenuhi kebutuhan hidup.

Namun, pada suatu ketika muncul berita bahwa air dari mata air tersebut mempunyai khasiat dapat menghidupkan orang yang sudah meninggal. Lama-kelamaan masyarakat Gunung Muria dan sekitarnya semakin banyak yang datang berbondong-bondong untuk melakukan persembahan atau ritual-ritual karena ingin mendapatkan berkah dari mata air tersebut. Ketika Syaikh Maulana Hasan Asy-Syadzily melihat hal tersebut, maka beliau menjadi muraka dan langsung menutup sumber mata air tersebut, karena banyak hal yang dianggap musyrik telah dilakukan oleh penduduk setempat di daerah itu.


Beberapa waktu kemudian, di sebelah barat Langgar yang berjarak kurang lebih 100 meter, muncul tiga buah mata air yang kemungkinan besar dibuat oleh beliau untuk mengambil air wudhlu. Para santri pun menggunakan ketiga mata air tersebut sebagai tempat berwudhlu, mandi, mencuci dan lain-lain sebagai pengganti mata air telah yang di tutup oleh Syaikh Maulana Hasan Asy-Syadzily. Setelah beliau wafat dipanggil untuk menghadap Allahu Rabbul Khaliq, jenazah beliau dimakamkan di sekitar tiga mata air yang lazim disebut Tuk Tiga Rasa tersebut.

Mengenai istilah air tiga rasa, menurut Mbah Abdullah kuncen makam yang pertama, istilah tersebut berasal dari lidah para musafir yang datang. Ketika pengunjung meminum ketiga sumber mata air tersebut, mereka merasakan rasa air yang berbeda-beda dari ketiga lubang mata air itu. Ada yang tawar, payau dan sedikit asin. Maka sejak saat itulah masyarakat sekitar gunung muria dan para musafir yang singgah menamakan mata air tersebut dengan sebutan “ Air Tiga Rasa”.

Adalah Mbah Alif, seorang pengembara rohani nan arif billah yang misterius dan susah banget ditemukan lagi! Jadi, sungguh beruntunglah diri saya bisa berjumpa dengan beliau bertepatan tanggal 9 September 1999, ketika sedang berziarah ke Makam Kanjeng Syaikh Syadzali yang tersembunyi di tengah kesunyian Alas Rejenu di lereng Gunung Muria wilayah Desa Japan, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah.

Dan, Mbah Alif pula dengan sabar menuntun langkah saya yang ahli maksiat ini bermudzakarah dan menziarahi Makam tokoh Syaikh Hasan Sadzali yang misterius di tengah Alas Rejenu. Menziarahi beberapa petilasan Syaikh Maulana Abdul Jalil, Syaikh Hasan Sadzali, dan Kanjeng Sunan Kali Jogo yang berada di Puncak Songo Likur, Puncak Argo Jembangan serta Puncak Argo Wiloso dengan menempuh jalur pendakian yang ekstrim. Beberapa tajalli langit memusnahkan lelah jasad. 




Dan mudzakarah berakhir dengan berziarah di Gubah Makam Kanjeng Sunan Muria, atau Syaikhuna Maulana Umar Sa’id bin Syaikhuna Maulana Sahid Abdurrahman. Beliau adalah putra Kanjeng Sunan Kali Jogo, Waliyullah yang masyhur di tanah Jawa pada kurun waktu tahun 1500 awal. Sungguh, bagi saya suatu pengalaman bathin yang luar biasa, ketika merasakan kesejukan hawa atmosfera alam Jabal Murwahnya tanah Jawa itu. Alam yang berdzikir lebih syahdu daripada dzikir makhluk.

Matur nuwun, Mbah Alif. Meskipun Panjenengan kini susah banget saya temukan dimana Pertapan Panjenegan? Dan betapa kangen bathin saya ingin berjumpa dengan Mbah Alif? Mursyid Suluk nan mulia di halaqah tanpo aran ini, dan semoga kawruh bathin Panjenengan jadi manfa’at bagi para pengembara bathin. Semoga Gusti Allahu Jalaluhu menjaga Panjenengan dengan rahmat agung KemuliaanNya dengan syafa’at Rasulullah.

Sejarah Syeh Sadzali masih penuh misteri. Pengurus Yayasan setempat sedang mengumpulkan data. Yang mereka yakini, Syeh itu salah satu murid Sunan Muria yang konon berasal dari Inegeri seberang, yang mengelana hingga ke tanah Jawa selepas menuntut ilmu Tasawwuf di Negeri Baghdad, Iraq.

Namun untuk selanjutnya akan saya luruskan kisah Beliau melalui hasil mudzakarah di Gunung Muria. Salah satu murid yang dikasihi karena pegang peranan penting ketika Sunan Muria mengadu kesaktian dengan Dampo Awang. Karena banyak yang iri kemudian tersisih atau disisihkan. Ada dugaan beliau menyingkir ke tempat dia dimakamkan sekarang ini di Rejenu.




Di Langgar Kanjeng Syaikh Maulana Hasan Ali Asy-Syadzily inilah, tempat pertemuan saya bersama Kyai Mas Muhammad Hartaya dengan Mbah Alif yang mengajarkan mengenai ihwal Risalah Kalam Alif kepada saya. Saya sendiri penasaran, risalah Ilmu Alif itu sebenarnya bagaimana? Dalam satu perbincangan yang saya sempat dengar, bahwa Inti daripada Alif adalah “Alif” ini diturunkan oleh Gusti Allah Ta ‘Ala sebelum Allah Ta’Ala menciptakan bumi dan langit. Alif ini sudah diturunkan ke setiap Ruhul Qulubiyah Insani? Jadi, singkat cerita hikmah ilmu Alif ini sudah dipegang oleh semua makhluk, tapi bagaimana tafsirnya?


Berdasarkan sanad silsilah yang terdapat dalam Kanzul Wasilah wa Sanads Silsilah  Bani Maulana  Al daly Asy-Syadzily Langkat di Pulau Sembilan, Langkat, Sumatera Utara, berikut adalah sanad silsilah daripada Kanjeng Syaikh Maulana Hasan Asy-Syadzily yang dipusarakan di Pertapan Alas Rejenu, Kudus, antara lain sebagai berikut :

1)Syaikh Maulana Hasan Ali Nuruddin Asy-Syadzily Al Jawi
2)Syaikh Maulana Muhammad Shalih Asy-Syadzily Al Bantani
3)Syaikh Maulana Malik Abdurrahman Asy-Syadzily Al Malaka
4)Syaikh Maulana Malik Abdullah Asy-Syadzily Waliyul Qutubuddin Al Jawi
5)Syaikh Maulana Asy-Syarif Malik Ahmad Asy-Syadzily Al Jawi
6)Syaikh Maulana Asy-Syarif Abdul Malik Asy-Syadzily
7)Syaikh Maulana Asy-Syarif Abu Ahmad Awwaluddin Asy-Syadzily Al Quds
8)Syaikh Maulana Asy-Syarif Abu Hasan Ali Nurruddin Asy-Syadzily
9)Syaikhuna Maulana Al Quthub Asy-Syarif Abu Hasan Ali Asy-Syadzily
10)Maulana Asy-Syarif Abu Abdullah Al Maghribi Al Aqsha
11)Maulana Asy-Syarif Abdul Jabar
12)Maulana Asy-Syarif Abu Thamiim
13)Maulana Asy-Syarif Abu Hurmuz
14)Maulana Asy-Syarif Abu Qushaiy
15)Maulana Asy-Syarif Abu Yusuf
16)Maulana Asy-Syarif Abu Yushaqq
17)Maulana Asy-Syarif Abu Wardha
18)Maulana Asy-Syarif Abu Batthal
19)Maulana Asy-Syarif Abu Ali
20)Maulana Asy-Syarif Abu Ahmad
21)Maulana Asy-Syarif Abu Muhammad
22)Maulana Asy-Syarif Abu Issa
23)Maulana Asy-Syarif Abu Idhris
24)Maulana Asy-Syarif Abu Umar
25)Maulana Asy-Syarif Abu Idhris
26)Maulana Asy-Syarif Abu Abdullah
27)Asy-Syarif Hasan Al Mutsanna Radhiyallahu ‘anhu
28)Sayyiduna Asy-Syarif Al Imam Hasan As-Sabti Radhiyallahu ‘anhu
29)Sayyidina Al Imam Ali Al Haidar bin Abi Thalib Karamallahu wajhah


Untuk kisah riwayat singkat daripada Kanjeng Syaikh Maulana Hasan Asy-Syadzily, Insya Allah akan saya sajikan pada lain kesempatan. Tentu saja, sebagai hasil suluk mudzakarah pun saya tetap harus melengkapi sumber-sumber pustaka atau nara sumber yang mengetahui bagaimana sejarah Kanjeng Syaikh Maulana Hasan Asy-Syadzily tersebut.

Karena, tentu saja akan berhubungan erat dengan sejarah Babad Demak Bintoro, Babad Wali Songo, serta menyinggung sejarah atau Babad Syaikh Siti Jenar. Oleh sebab itu, mohon maaf sebelumnya serta mohon maklum adanya, untuk kisah sang waliyullah misterius ini akan disajikan di lain waktu, matur nuwun.



Ya Allah, tenggelamkan aku dalam Cinta-Mu,
hingga tak ada sesuatu pun yang menggangguku dalam jumpa-Mu.

Ya Allah, anegerahilah aku setetes Cinta,
agar aku bisa mencintai-Mu dengan Cinta yang sesungguhnya.

Ya Allah, limpahilah aku sekeranjang Rindu,
biar aku dapat mencumbu-Mu dengan seluruh jiwaku.



 

*Catatan Mudzakarah Ismu Al Daly bersama Al Mursyid Kyai Mas Muhammad Hartaya Ainul Yaqin, Mbah Alif sang Musafir misterius, serta Mbah ul juru Kunci Makam, pada tanggal 9/9/1999 di Pertapan Syaikh Maulana Hasan Asy-Syadzily di Alas Rejenu Muria, Kudus, Jawa Tengah.

1 komentar:

  1. Subhanallah! Saya baru berkesempatan ziarah ke makam Beliau Syaikh Maulana Hasan Asy-Syadzily pada sekitar bulan Maret 2018. Betul-betul nikmat perjalanan itu. Sekali lagi terima kasih atas tulisan yang indah ini.

    BalasHapus